Kalau cinta tak mampu untuk dimiliki, tidak salah kan kalau saya masih menginginkan kenang-kenangan dari dia.
Hm… egokah aku saya mengambil keputusan tanpa memikirkan nasib segumpal darah yang akan menjadi manusia ini.
Membiarkan dia hidup tanpa kasih sayang yang lengkap nantinya.
Saya hanya berharap, semua yang bisa saya kasih bisa cukup untuk dia.
Orang egois kali yah saya dan si pria. Titik terang yang diharapkan tak pernah benar2 muncul.
Entahlah…

*mual2*
Berbagi
Bingung juga, kaget, dah lupa rasanya seperti waktu pertama kali. Masih ragu dikit. Tapi dah ada gejala-gejala awal.
Sudah waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal pada rokok dan asap laknatnya sepertinya
Oh my God, whatever will be, will be dah
Aku happy dia juga happy.
9 bulan lagi dan…
kuharap papski punya temen main bola nanti

Berbagi

Pusing, bingung, galau… semuanya deh
Dari awal, perasaan ini sudah selalu ada. Tapi, waktu terus berjalan tanpa disadari.
Kau dan aku selalu bersama, setelah ada si kecil. Sempat terbersit dalam pikiran, bahwa ini hanya keterpaksaan yang harus dijalani.
Masih ku ragu akan cinta mu. Itu pasti. Entahlah sampai kapan akan begini.
Saat aku tiba pada keyakinan yang pasti, kau hancurkan lagi semua itu.
Dan aku pun terus memaafkan mu.
Aku sadar, Tuhan gak salah milih ngasih cobaan seberat ini pada diriku.
DIA tahu. Aku kuat dan sanggup melewati semuanya ini.
Sekarang, aku hanya bisa menanti sebuah kepastian.
Akan kemana semua ini mengarah.
Supaya kau tahu sayang, aku tetap menyayangi mu.
Aku selalu mencintai mu, meskipun cinta mu pada ku belum ku rasa sepenuhnya.
Tapi ku harap, untuk saat ini, biarlah cinta dari ku bisa cukup untuk kita bertiga.
Berbagi